Selasa, 08 November 2011

Garam dan Telaga

SynMotivation-Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, daanglah seorang anak muda yang sedang di rundung banyak masalah. Anak muda itu memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan. “Coba, minum ini, dan katakana bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Asin. Asin sekali”, jawab anak mda itu, sambil meludah kesamping.

Pak tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak sang anak muda, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, kedalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat anak muda itu selesai meminum air itu, Pak tua barkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.

“Segar”, sahut anak muda itu. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, Tanya Pak tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak Pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda itu. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, denarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa asin itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.”

“Tapi kepahitan yang kita rasakan, akan dangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu meradakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bias kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk manampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar pada hari itu. Dan Pak tua kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering dating padanya membawa kersahan jiwa.


0 komentar:

Poskan Komentar